Disuatu desa ada
seorang anak yang tinggal bersama kedua orangtuanya. mereka adalah keluarga
yang hidup di bawah garis kemiskinan, anak itu bernama wily. Wily adalah
seorang anak yang patuh kepada kedua orangtuanya, dia selalu membantu pekerjaan
orangtuanya namun tidak pernah meninggalkan sekolahnya. Dahulu wily dan
orangtuanya tinggal bersama kakaknya, namun setelah kakaknya menikah sang
kakakpun ikut tinggal bersama istrinya. Semenjak itu kakaknya tidak pernah ada
kabar, sepucuk suratpun tak nampak.
Hari terus
berganti, si wily semakin beranjak dewasa, tak terasa sekolahnya di jenjang SMA
sudah akan selesai. Namun, seiring berjalannya waktu bertepatan dengan hari
kelulusannya ayahanda menghembuskan nafas terakhirnya, dengan memberi sepucuk
pesan untuk wily “Anakku, ayah mohon jaga
ibumu, bahagiakan ibumu, karena ayah belum mampu membahagiakan ibumu nak.
Berjuanglah demi mimpimu,demi ibumu”. Semenjak itu wily sangat terpukul, ia
bingung apa yang harus ia lakukan, ibunyapun semakin tua, berbagai penyakit
bergantian menggerogoti tubuh ibunya. Perih, lirih, merasa bersalah wily
melihat ibunya menahan rasa sakit tanpa harus ada yang ia lakukan.
Hingga pada
malam hari, ia berbicara denagn ibunya tentang keinginan dirinya. “Ibu, wily tau ibu tak mungkin hidup
seorang diri, wily tau ibu saying dengan wily. Oleh karena itu, demi membalas
kasih saying ibu, izinkan wily berjuang lanjut sekolah ke jenjang perguruan
tinggi bu ? wily ingin menjadi seorang dokter hebat yang mampu mengobati
penyakit ibu yang tak kunjung sembuh”. Dengan wajah sungkan, berat hati,
sang ibu tak terasa meneteskan air mata sambil berkata “wily anakku, sungguh mulia hatimu, kau rela berjuang demi ibu. Sungguh
ibu tak pernah menyangka ibu kelak akan hidup di gubuk ini seorang diri tanpa
di temani ayahmu, kakakmu, bahkan dirimu. Anakku, berangkatlah nak, berjuanglah
diluasnya dunia, namun jangan pernah lupakan ibu nal”.
Malam itu terasa
sangat mencekam dan penuh haru. Keesokan harinya wilypun berangkat berjuang untuk
mendaftar dan tes di perhuruan tinggi dengan niat mengambil jurusan kedokteran.
Dengan penuh haru, wily pamit dengan sang ibu, deraian air mata menghiasi wajah
keduanya. “ Ibu, do’akan anakmu kata wily
sambil mencium tangan, pipi dan kaki sang ibu” dengan deraian air mata
terselib senyum sang ibu dan berkata “
pasti anakku, do’a ibu selalu menyertaimu, cepatlah pulang anakku, bawalah stetoskop
untuk ibu”.
Dengan penuh
perjuangan, tes demi tes dijalani wily hingga akhirnya wily sekolah di fakultas
kedokteran dan wily memperoleh beasiswa dari pihak universitas tempatnya
manuntut ilmu. Hari demi hari berlalu, dalam sujud wily teringat wajah sang
ibu, hingga ia nengirimkan sepucuk surat untuk ibu yang sang atsingkat isinya.
|
Untuk
Ibu Tersayang
Di
kampung Halaman
Salam
rindu,
Ibu apa kabar ibu disana ? apakah ibu
sudah makan hari ini ? bagaimana keadaan ibu saat ini ?. ibu jagalah
kesehata ibu, ibu jangn fikirkan wily. Wily disini baik-baik saja dan
segala masalah wily bias menghadapinya. Ibu berita gembira untukmu, wily
saan ini sedang kuliah di fakultas kedokteran dan insyaallah besok wily
akan menjalankan upacara pengambilan sumpah dokter yang pertama, semua ini
berkat ibu dan akan bawa stetoskop buat ibu.: )
Salam
hormat dan rindu
Anakmu wily
|
Setelah surat
itu, wily tak pernah lagi mengirim surat. Ibunya selau menunggu dan menunggu,
pak pos selalu ditanyakannya “ pak,
adakah surat untukku ? “ selalu pertanyaan itu tyang ditanyakannya kepada
pak pos. bertahun tahun ibunya menunggu, dengan penuh cemas dan rasa rindu akan
kabar wily yang tak pernah memberinya kabar lagi. Sakinyapun semakin parah dan
tak ada yang menemaninya di gubuk itu, hanyalah tetangganya yang terkadang
menengoknya disana. Sang kakakpun tak ada kabar bak ditelan bumi. Dalam
keheningan malam dan sambil menahan sakitnya penyakit yang ia rasakan sang ibu
berdo’a “ YaAllah, apakah kabar anakku
disana ? adakah dia ingat kepadaku disini. yaAllah gerakkanlah hati anakku,
yang mungkin kini sibuk dengan dunia barunya,yaAllah aku merindukan anakku, aku
rindi cium kasih sayangnya,yaAllah sebelum aku memenggilku dengan penyakitku
ini, aku mohon perkenankan aku bertemu dengan ankku”.
Teng.teng.teng
suara jam wily berbunyi, atu bertanda hari ini dia akan mendapatkan gelar
dokternya dan akan segera pulang mmbawa stetoskop buat sang ibu. Upacara
penyematan gelar dokterpun akan berlangsung, dan tiba saatnya disebut gelar
dokter muda terbaik. Tak disangkanya nama wilylah yang disebut oleh guru besar
universitasnya. Tak terasa air mata wily bercucuran dan sambil melangkah menuju
podium kehormatan, ia berdiri disana dan berklata “ ini semua anugrah-Nya, ini
semua berkat do’a ibuku, ibuku yang kini tak tau kabarnya, ibuku yang kini
menanti diriku dan stetoskop yang kujanjikan untukknya di kampong hal;aman
tercinta. Denagn deraian air mata, ia berdiri-melangkah-dan berlari pergi
menuju kampong halamanya dengan menggunakan jubah kebanggaan dan sebuah stetoskop
dilehernya. Namun, apa yang ia lihat setibanya di sana ? rumahnya sanagt ramai
oleh warga, ia tersenyum bahagia, ia menyangka bahwa semua warga berkumpul
untuk menyambut kedatangannya, namun, dia mulai bingung, mengapa ada sebuah
bendera kuning didepan pintu rumahnya....
Wilypun
terdiam,menangis,berlari sambil berteriak “ Ibu....................................”,
namun ia menemukan ibunya telah terbaring kaku, namun senyum sang ibu tetap
terpancar indah intuknya. Wilypun menangis dan berkata “ ibu,wily pulang bu, ini wily bawakan stetoskop buat ibu, seperti
permintaan ibu dahulu. Ibu..................ampuni wily bu, ibu wily sayang
ibu, maafkan wilybu”. namun, sang ibu tetap tertidur pulas dan kaku diatas
keranda hijau nan indah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar