Minggu, 09 Agustus 2015

Stetoskop buat ibu



Disuatu desa ada seorang anak yang tinggal bersama kedua orangtuanya. mereka adalah keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, anak itu bernama wily. Wily adalah seorang anak yang patuh kepada kedua orangtuanya, dia selalu membantu pekerjaan orangtuanya namun tidak pernah meninggalkan sekolahnya. Dahulu wily dan orangtuanya tinggal bersama kakaknya, namun setelah kakaknya menikah sang kakakpun ikut tinggal bersama istrinya. Semenjak itu kakaknya tidak pernah ada kabar, sepucuk suratpun tak nampak.
Hari terus berganti, si wily semakin beranjak dewasa, tak terasa sekolahnya di jenjang SMA sudah akan selesai. Namun, seiring berjalannya waktu bertepatan dengan hari kelulusannya ayahanda menghembuskan nafas terakhirnya, dengan memberi sepucuk pesan untuk wily “Anakku, ayah mohon jaga ibumu, bahagiakan ibumu, karena ayah belum mampu membahagiakan ibumu nak. Berjuanglah demi mimpimu,demi ibumu”. Semenjak itu wily sangat terpukul, ia bingung apa yang harus ia lakukan, ibunyapun semakin tua, berbagai penyakit bergantian menggerogoti tubuh ibunya. Perih, lirih, merasa bersalah wily melihat ibunya menahan rasa sakit tanpa harus ada yang ia lakukan.
Hingga pada malam hari, ia berbicara denagn ibunya tentang keinginan dirinya. “Ibu, wily tau ibu tak mungkin hidup seorang diri, wily tau ibu saying dengan wily. Oleh karena itu, demi membalas kasih saying ibu, izinkan wily berjuang lanjut sekolah ke jenjang perguruan tinggi bu ? wily ingin menjadi seorang dokter hebat yang mampu mengobati penyakit ibu yang tak kunjung sembuh”. Dengan wajah sungkan, berat hati, sang ibu tak terasa meneteskan air mata sambil berkata “wily anakku, sungguh mulia hatimu, kau rela berjuang demi ibu. Sungguh ibu tak pernah menyangka ibu kelak akan hidup di gubuk ini seorang diri tanpa di temani ayahmu, kakakmu, bahkan dirimu. Anakku, berangkatlah nak, berjuanglah diluasnya dunia, namun jangan pernah lupakan ibu nal”.
Malam itu terasa sangat mencekam dan penuh haru. Keesokan harinya wilypun berangkat berjuang untuk mendaftar dan tes di perhuruan tinggi dengan niat mengambil jurusan kedokteran. Dengan penuh haru, wily pamit dengan sang ibu, deraian air mata menghiasi wajah keduanya. “ Ibu, do’akan anakmu kata wily sambil mencium tangan, pipi dan kaki sang ibu” dengan deraian air mata terselib senyum sang ibu dan berkata “ pasti anakku, do’a ibu selalu menyertaimu, cepatlah pulang anakku, bawalah stetoskop  untuk ibu”.
Dengan penuh perjuangan, tes demi tes dijalani wily hingga akhirnya wily sekolah di fakultas kedokteran dan wily memperoleh beasiswa dari pihak universitas tempatnya manuntut ilmu. Hari demi hari berlalu, dalam sujud wily teringat wajah sang ibu, hingga ia nengirimkan sepucuk surat untuk ibu yang sang atsingkat isinya.
Untuk Ibu Tersayang
Di kampung Halaman

Salam rindu,
Ibu apa kabar ibu disana ? apakah ibu sudah makan hari ini ? bagaimana keadaan ibu saat ini ?. ibu jagalah kesehata ibu, ibu jangn fikirkan wily. Wily disini baik-baik saja dan segala masalah wily bias menghadapinya. Ibu berita gembira untukmu, wily saan ini sedang kuliah di fakultas kedokteran dan insyaallah besok wily akan menjalankan upacara pengambilan sumpah dokter yang pertama, semua ini berkat ibu dan akan bawa stetoskop buat ibu.: )

                                                                                                Salam hormat dan rindu

                                                                                                           Anakmu wily
 














Setelah surat itu, wily tak pernah lagi mengirim surat. Ibunya selau menunggu dan menunggu, pak pos selalu ditanyakannya “ pak, adakah surat untukku ? “ selalu pertanyaan itu tyang ditanyakannya kepada pak pos. bertahun tahun ibunya menunggu, dengan penuh cemas dan rasa rindu akan kabar wily yang tak pernah memberinya kabar lagi. Sakinyapun semakin parah dan tak ada yang menemaninya di gubuk itu, hanyalah tetangganya yang terkadang menengoknya disana. Sang kakakpun tak ada kabar bak ditelan bumi. Dalam keheningan malam dan sambil menahan sakitnya penyakit yang ia rasakan sang ibu berdo’a “ YaAllah, apakah kabar anakku disana ? adakah dia ingat kepadaku disini. yaAllah gerakkanlah hati anakku, yang mungkin kini sibuk dengan dunia barunya,yaAllah aku merindukan anakku, aku rindi cium kasih sayangnya,yaAllah sebelum aku memenggilku dengan penyakitku ini, aku mohon perkenankan aku bertemu dengan ankku”.
Teng.teng.teng suara jam wily berbunyi, atu bertanda hari ini dia akan mendapatkan gelar dokternya dan akan segera pulang mmbawa stetoskop buat sang ibu. Upacara penyematan gelar dokterpun akan berlangsung, dan tiba saatnya disebut gelar dokter muda terbaik. Tak disangkanya nama wilylah yang disebut oleh guru besar universitasnya. Tak terasa air mata wily bercucuran dan sambil melangkah menuju podium kehormatan, ia berdiri disana dan berklata “ ini semua anugrah-Nya, ini semua berkat do’a ibuku, ibuku yang kini tak tau kabarnya, ibuku yang kini menanti diriku dan stetoskop yang kujanjikan untukknya di kampong hal;aman tercinta. Denagn deraian air mata, ia berdiri-melangkah-dan berlari pergi menuju kampong halamanya dengan menggunakan jubah kebanggaan dan sebuah stetoskop dilehernya. Namun, apa yang ia lihat setibanya di sana ? rumahnya sanagt ramai oleh warga, ia tersenyum bahagia, ia menyangka bahwa semua warga berkumpul untuk menyambut kedatangannya, namun, dia mulai bingung, mengapa ada sebuah bendera kuning didepan pintu rumahnya....
Wilypun terdiam,menangis,berlari sambil berteriak “ Ibu....................................”, namun ia menemukan ibunya telah terbaring kaku, namun senyum sang ibu tetap terpancar indah intuknya. Wilypun menangis dan berkata “ ibu,wily pulang bu, ini wily bawakan stetoskop buat ibu, seperti permintaan ibu dahulu. Ibu..................ampuni wily bu, ibu wily sayang ibu, maafkan wilybu”. namun, sang ibu tetap tertidur pulas dan kaku diatas keranda hijau nan indah itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar