Senin, 14 September 2015

Menara Cahaya : Akankah?

Kaki hanya mampu berdiri tegak dan diam
Tangan bersembunyi kebelakang badan
Mulut kaku untuk mengucap sesuatu

Diamnya kaki bukan karena tak lagi mampu melangkah
Bersembunyinya tangan bukan karena tak lagi mampu menggenggam
Heningnya lisan bukan karena ia tunarungu

Tembok itu tidak sekokoh dulu
Tembok itu tidak sekuat dulu
Tembok itu tidak seindah dulu

Tembok itu tak lagi kuasa menahan hembusan angin yang terus berhembus
Tembok itu tak lagi memberi ruang untuk coretan keluh kesah pejuang
Tembok itu kini hanyalah tembok yang berfungsi sebagai pembatas

Mungkinkah menara cahaya itu berdiri dengan sempurna.
Sedangkan aku,kamu, dan kita enggan menjadi penyempurnanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar